Buku ini merupakan antologi puisi bersama Suparman Sopu, Anfas, Muhammad Syaruat Tajuddin, Aisya Ahmad, dan Susiyani. Tema-tema yang terekam di dalamnya bervariasi, judul dari buku ini sendiri doambil dari dua buah yang terdapat di dalamnya, yaitu Sayap-sayap karya Suparman Sopu, dan Bulan Separuh Terang karya Aisya Ahmad. Suparman Sopu melihat dan merasakan bahwa kepak sayap adalah simbol sebuah perjalanan individu yang berada dalam sebuah komunitas global pada sebuah negeri yang didiaminya. Suparman Sopu merasakan bahwa dalam perjalanan kepak sayap ada dua arah yaitu arah kanan dan arah kiri, dan dirasakannya sebagai individu ada gerak yang mengarah ke kiri, sehingga kegelisahannya, ketakutannya pada keretakan persataun sangat terasa. Ujung kegelisahannya Suparman Sopu berseru untuk menjalain persatuan, menyatukan gerak sayap pada kebenaran dengan menjadi warga di negerinya sendiri.
Puisi dari goresan pena perempuan Aisya Ahmad dan Susiyani sangat kental dengan kelembutan. Tapi kelembutan kata yang disodorkan bukanlah kelembuatan dalam arti kelemahan akan tetapi kelembutannya adalah kata yang menggugah rasa. Puisi-puisinya sangat halus menyentuh jiwa.
Anfas yang ketika buku ini diterbitkan adalah direktur Universitas Terbuka yang berdomisili di Majene di Sulawesi Barat lebih banyak melihat keindahan dan juga beberapa fenomena pada masyarakat Mandar di Majene meski beberapa puisinya yang dimuat dalam buku ini melukis rindunya kepada ibunya.
Di dalam buku antologi puisi bersama ini, Muhammada Syariat Tajuddin yang dikenal sebagai kolomnis, pengajar di perguruan tinggi di Polewali Mandar dan Majene menyajikan beberapa puisinya yang dalam penuh makna, diksi dan metafora memukau yang akan membawa imajinasi pembaca menjalar dan menyelam ke kedalaman makna, dan pada puisi yang lain akan mengangguk maklum pada fakta-fakta yang tersajikan begitu halus. Puisi Syariat dalam buku ini sangat inspiratif dan menggoda.






Ulasan
Belum ada ulasan.